Sebuah Gubuk di samping air terjun

Dalam sebuah perjalanan, apakah yang sebenarnya kita cari ? Sebuah gambarkah ? Ataukah tentang info dan sejarah tempat yang kita tuju ? Bagaimana dengan makna perjalanan itu sendiri ?? Dapatkah kita selalu merasakannya saat berpergian ??

IMG_6355

Ini merupakan keresahanku sendiri, entah karena kurang berwisata sehingga selalu iri hati jika melihat orang liburan. Entahlah. Banyak orang bilang berpetualang itu baik, akan memberimu pelajaran hidup melalui kehidupan disekitarnya. Namun sejauh yang aku amati orang orang yang berwisata hanya sekedar senang senang. Tanpa pernah peduli dengan sekelilingnya. Ini mungkin pandangan subjektif tapi aku pernah mengalaminya sendiri. Di sebuah wisata air terjun di kabupaten Tuban. Tepatnya disamping jembatan sebelah timur dari lokasi air terjun terdapat sebuah gubuk, untuk di sebut sebuah rumah masihlah jauh karena kondisinya. Di situ tinggal sepasang orang tua namun belum juga terlalu jika disebut lansia. Entah dimana anak anak mereka jika mereka memiliki seorang anak. Yang membuat miris adalah mereka masih memakan gaplek di jaman yang sudah modern ini. Dan ini terjadi di sebuah tempat wisata dimana banyak orang justru bersenang senang merayakan kebebasan dari rutinitas dan belenggu pekerjaan. Sungguh ini sebuah ironi sebuah tempat wisata yang semestinya membawa kemakmuran bagi warga sekitar.

Semoga saja opini ini salah karena memang aku hanya sebatas mengamati tanpa mengorek informasi dari yang bersangkutan. Hanya saja tak mestinya itu terjadi. Apakah mereka yang sering berpergian bisa lebih peka terhadap keadaan sosial orang lain ?? Pertanyaan ini tak akan pernah memiliki jawaban karena sebuah intuisi seseorang berbeda dengan yang lain, kadar nurani setiap manusia berbeda. traveling bisa mengasah nurani dan kepedulian seseorang namun itu juga bergantung pada individu tersebut. Apa yang mereka cari dari sebuah perjalanan. Kesenangan, ketenangan, kepedulian ??

DSC_0520

Nb : Penulis melihat peristiwa pada tahun 2016, mungkin keadaan disana sudah berubah dan berbeda.

Gowes Sendang Parengan

       Waktu itu aku masih belum memiliki sepeda, beruntung seorang kawanku Rudi a.k.a Kentang mempunyai dua sepeda gunung dan Dia selalu meminjamiku untuk gowes. Mungkin dia juga butuh teman untuk bersepeda bersama, jadilah dia mengajakku terkadang juga teman yang lain. Meski belum memiliki sepeda namun Aku sudah punya helm sepeda serta framenya, untuk part lain masih mencicil. Yang penting safety dan keamanan bersepeda kami penuhi dulu.

    Minggu pagi Kami berlima sepakat untuk gowes ke sekitar hutan di kecamatan parengan Tuban. Aku, Kentang, Sobak, Minying dan Ari. Di Rumah Arilah kami berkumpul. Temanku Sobak saat itu juga belum punya sepeda , Sobak memakai sepeda Ari yang memang punya 2 sepeda, xtrada dan thrill. Sepeda Kentang yang ku pakai  pun juga xtrada 3.0, sedang Dia sendiri menunggangi Mosso FR, Minying menggunakan pasific. Tujuan Kami waktu itu adalah melihat air terjun kecil di dalam hutan parengan meski kami ragu apakah ada airnya atau tidak mengingat ini adalah musim kemarau dimana banyak mata air dan sungai yang mengering.

        Seperti biasa Kami lewat Desa Menilo, jalanan disini masih aspal yang mulus. Ada beberapa tanjakan dan turunan yang nantinya akan kami lewati, hitung-hitung sebagai pemanasan hehe. Untuk pemula mungkin agak sedikit berat tapi jika sudah terbiasa gowes pasti sanggup melewatinya, karena antara tanjakan yang di lewati nanti sebanding dengan turunan yang di dapat. Selepas dari desa Menilo kami melewati desa dan pasar desa Prambon tergayang, biasanya ada beberapa Club goweser yang berkumpul disini untuk makan dan minum karena memang banyak warung disekitar pasar yang berjualan. Nantinya Kami juga menjumpai lagi titik berkumpul pesepeda di Desa Soko, kami menyebutnya dengan Telon Kenti. Sebuah pertigaan Jalan yang menjadi akses beberapa desa di kecamatan Soko. Sama halnya dengan Desa Prambon di Telon Kenti juga ada banyak warung makan yang tersedia karena memang letaknya yang strategis. Biasanya sebelum melanjutkan perjalanan, para goweser sarapan dulu disini. Karena kami merasa belum lapar Kami melanjutkan mengayuh pedal ke utara untuk menuju alas Parengan. Jalan yang kami lalui masih aspal namun kali ini datar-datar saja meski tak semulus sebelumnya, ada beberapa ruas yang rusak dan berlubang. Sampai di depan SMP Parengan, kami masuk ke utara. Pemandangan yang kami lihat masih perkampungan warga desa Parengan. Sekitar menempuh kurang lebih 6 km ke utara kemudian ke timur, baru kayuhan Kami disambut sawah dan perkebunan. Dan kami mulai bersepeda masuk ke dalam hutan. Kali ini ban sepeda sudah bertemu dengan tanah kering gersang dan kadang berlubang bekas dari roda motor maupun truck yang pernah lewat mengangkut hasil hutan entah kayu, ranting maupun daun. Letak air terjun mungkin 3km didalam hutan, berada di sisi kanan rute yang akan kami lewati.

 

       Ternyata apa yang kami khawatirkan benar terjadi. Tidak ada air yang mengalir sesampai di sana. Kondisi sungai sudah mengering dengan tanah yang retak akibat kemarau. Kecewa yang Kami rasakan tidaklah besar karena kami sudah menduganya. Malahan kami di untungkan dengan keringnya air kami bisa langsung ke tempat air mengalir tanpa khawatir terpeleset karena tanah yang licin. Meski begitu Kami tetap harus waspada juga terhadap kondisi medan sekitar, salah tingkah bisa membuat jatuh ke bawah dan jelas Kami menghindari hal tersebut. Bagi Kami yang penting adalah gowesnya, tujuan akhir adalah bonus yang diterima. Beberapa gambar Kami ambil untuk kenangan bahwa Kami pernah ke sini. Mungkin lain waktu di musim penghujan Kami akan datang lagi ke sanan bersama-sama tentunya.

       Matahari semakin menunjukan keberadaannya menjelang tengah hari. Puas istirahat dan befoto bareng Kami melanjutkan putaran roda. Diantara Kami berlima Kentanglah yang paling tahu dan mengenal daerah hutan ini, Dia menawarkan teman-teman mengunjungi beberapa sumber mata air, kami setuju saja karena memang kami ingin bermain air sambil melepas lelah. Aku lupa nama mata air yang kami datangi, mungkin Kentang dan Ari tahu sebab mereka rutin gowes tiap minggu pagi. Untuk menuju ke sumber air selanjutnya kami mesti keluar lagi dari hutan, kali ini arah barat yang kami tempuh. Keluar dari hutan roda kami menyentuh aspal lagi, ternyata sumber mata air ini tidah jauh dari pinggir jalanan pedesaan. Tidak seperti tempat sebelumnya, disini kami masih melihat air meski tidak melimpah seperti saat musim penghujan. Airnya juga bening dan bersih, tak kami ceburi karena air nanti menjadi keruh. Hanya sekedar mencuci muka. Tadi sebelum sampai, kami sempat mampir di warung membeli gorengan, perut sudah mulai lapar dan tak dapat di bohongi. Hehe.

         Lepas dari tempat ini gowes kami berlanjut, tenaga memang sudah berkurang tapi masih belum habis sepenuhnya. Sepertinya kali ini kami akan menemui tanjakan yang tak bisa kami taklukkan. Dari bawah kami pandangi dan memang menanjak abis dengan jarak yang lumayan jauh. Benar saja, kami semua menuntun sepeda dari bawah ke atas karena tak sanggup mengayuh meski gigi gear sepeda sudah di setting yang paling kecil. Sesampai di atas kami istirahat sambil memandangi alam sekitar. Pohon jati yang masih kecil serta matahari yang semakin meninggi membuat udara semakin panas, apalagi kondisi juga gersang. Beruntung ada gubuk petani yang kami gunakan untuk berteduh dari panas. Sebagian kawan mengambil foto dan berselfie ria. Aku dan Sobak berbincang di gubuk. Yang paling merasakan panas adalah Minying karena dia memakai kaos hitan dan celana levis ketika gowes, mungkin dari awal dia mengira gowes tidak jauh tapi ternyata Kentang dan Ari membawa gowes ini jauh dari rencana awal. Kami memutuskan untuk pulang setelah ini. Matahari sudah hampir tepat pada posisi siang hari.

      Dalam perjalanan pulang, Ari memberitahu bahwa masih ada lagi sendang yang akan kami lewati. Sendang ini kata sudah dipugar oleh penduduk desa supaya airnya mudah di ambil dan letaknya di bawah pohon yang rindang. Aku jadi tak sabar untuk kesana untuk mandi akibat cuaca panas yang menyengat kepala. Sendang ini ternyata juga berada di sisi jalan, sebelah kiri dari arah kami pulang. Kondisinya juga agak ramai karena tempatnya yang memang teduh. Kami memutuskan untuk membasahi tubuh biar segar dan kembali fit untuk lanjutkan perjalanan pulang. Jalan pulang yang kami tempuh adalah Jalan raya jurusan Jatirogo – Parengan – Bojonegoro, sudah pasti kondisi panas dan berdebu karena banyak bus dan mobil yang lewat, apalagi tengah hari. Untuk ukuran gowes hari minggu ini memang memakan waktu yang agak lama , karena biasanya jam 10 pagi aku sudah sampai rumah, sedang ini jam 1 siang kami tiba di Bojonegoro. Melelahkan namun kami merasa senang telah berpetualang bersama.

      Bersepeda bukanlah seberapa jauh yang telah di tempuh, seberapa kayuhan yang telah didapat. Bersepeda adalah mengukur batas kemampuan dan kesabaran diri. Sudahkah kita memahami hidup yang kadang menempatkan diri kita di atas roda kehidupan maupun di bawah. Gowes  bersama mengajarkan kita untuk berbagi dengan yang lain, memaknai ikatan pertemanan. Ride Your way.

Rag and Bone

By : The White Stripes

Rag & Bone!
Rag & Bone!
Rag & Bone!
Rag & Bone!

Jack:
Meg, look at this place
This place looks like a mansion!
It’s like a mansion, look at all this stuff!
Look, I see something over there.

We got you here selling rag and bone
Bring out your junk and we’ll give it a home
A broken trumpet or a telephone
Ah, come on, come on, come on
Come and give it to me

Yeah!

Come on, come on, come on
Come on and give it to me

Rag & Bone!
Rag & B one!

Ah, come on, come on, come on
Come on and give it to me

All of your pretty
Your pretty little Rags & Bones

Jack: Well, look at all this, you don’t want it?

Meg: What is that?

Jack:
You sure you don’t want it? Take it.
They’re just things you don’t want.
I can use ’em.
Meg can use ’em
We can do something with ’em
We’ll make something out of ’em
Make some money out of ’em at least.

Hey if you ain’t gonna use it, just give it to us
We’ll give it a home

Well, I hope you got something shoddy for me
Everybody got a Christmas tree
Can you part with a toilet seat?
Ah, jump up, jump up, jump up
Come on and give it to me

Rag & Bone!

We wanna get it Granny, while it’s hot
You think it’s trash Granny, but it’s not
Oh, we’ll be taking whatever you got
Ah, give up, give up, give up
Come on and give it to me

Woo!

All of your pretty
Your pretty little Rags & Bones

Meg: I saw some stuff in here, now are you gonna give it to us?

Jack: Ah, Meg, don’t be rude

Meg: Why not?

Jack:
They might need it.
And if you don’t want it, we’ll take it
And if you don’t wanna give it to us,
We’ll keep walking by
We’ll keep going we’re not tired
But, got plenty of places to go
Lots of homes we ain’t been to yet
The west side
The south-west side
Middle east
Rich house
Dog house
Outhouse
Old folks’ house
House for unwed mothers
Halfway homes
Catacombs
Twilight Zones
Looking for Technic’s turntables to gramophones
So take a last lick of your ice-cream cones
And lock up what you still wanna own
But please be kind
And don’t rewind

All of your pretty
Your pretty little Rags & Bones
Your pretty little Rags & Bones

Ah, jump up, jump up, jump up
Come on and give it to me

Your pretty little Rags & Bones

Jack & Meg:
Ah, come on, come on, come on
Come on and give it to us!

[Jack & Meg, x13:] Yeah!

Dia dan ia

Mataku yang salah lihat atau gimana nih ? Sumpah gak cocok banget.Tapi mau gimana lagi, mereka udah terikat komitmen. Saat ini positif thinking sajalah, mungkin ada sisi baik dari dia yang tidak kita miliki dan ia melihat ada padanya.
Bahagialah kalian.

Ditulis dari WordPress untuk Android

Goresan Kurt Cobain

Speaking from the tongue of an
experienced simpleton who
obviously would rather be an
emasculated, infantile complain-
ee. This note should be pretty
easy to understand. All the warnings from the punk
rock 101 courses over the years,
since my first introduction to the,
shall we say, ethics involved
with independence and the
embracement of your community has proven to be very true. I
haven’t felt the excitement of
listening to as well as creating
music along with reading and
writing for too many years now. I
feel guity beyond words about these things. For example when we’re back
stage and the lights go out and
the manic roar of the crowds
begins., it doesn’t affect me the
way in which it did for Freddie
Mercury, who seemed to love, relish in the the love and
adoration from the crowd which
is something I totally admire and
envy. The fact is, I can’t fool
you, any one of you. It simply
isn’t fair to you or me. The worst crime I can think of would be to
rip people off by faking it and
pretending as if I’m having
100% fun. Sometimes I feel as if
I should have a punch-in time
clock before I walk out on stage. I’ve tried everything within my
power to appreciate it (and I
do,God, believe me I do, but it’s
not enough). I appreciate the
fact that I and we have affected
and entertained a lot of people. It must be one of those
narcissists who only appreciate
things when they’re gone. I’m too
sensitive. I need to be slightly
numb in order to regain the
enthusiasms I once had as a child. On our last 3 tours, I’ve had a
much better appreciation for all
the people I’ve known
personally, and as fans of our
music, but I still can’t get over
the frustration, the guilt and empathy I have for everyone.
There’s good in all of us and I
think I simply love people too
much, so much that it makes me
feel too fucking sad. The sad
little, sensitive, unappreciative, Pisces, Jesus man. Why don’t
you just enjoy it? I don’t know! I have a goddess of a wife who
sweats ambition and empathy
and a daughter who reminds me
too much of what i used to be,
full of love and joy, kissing
every person she meets because everyone is good and
will do her no harm. And that
terrifies me to the point to where
I can barely function. I can’t
stand the thought of Frances
becoming the miserable, self- destructive, death rocker that
I’ve become. I have it good, very good, and
I’m grateful, but since the age of
seven, I’ve become hateful
towards all humans in general.
Only because it seems so easy
for people to get along that have empathy. Only because I love
and feel sorry for people too
much I guess. Thank you all from the pit of my
burning, nauseous stomach for
your letters and concern during
the past years. I’m too much of
an erratic, moody baby! I don’t
have the passion anymore, and so remember, it’s better to burn
out than to fade away. Peace, love, empathy.
Kurt Cobain Frances and Courtney, I’ll be at
your alter.
Please keep going Courtney, for
Frances.

For her life, which will be so
much happier without me. I LOVE YOU, I LOVE YOU!

kurt